taradigading

Just another WordPress.com weblog

Kiat pembangunan halak hita.

tinggalkan komentar »

Setitik noktah gula yang kita letakkan disuatu tempat akan mengundang kerumunan semut yang kita tidak tahu darimana datangnya. sehingga pepatah “dimana ada gula disitu ada semut” tidak perlu disangkal lagi.

Gula dan semut menjadi kiasan antara modal dan masyarakat.
Cerita ini adalah kisah “pembangunan” yang terlihat sejak tahun 1970-an sampai tahun 2000-an diwilayah yang menyebut dirinya “halak hita” (masyarakat dan elite-nya).

Secara garis besar ada 4 modelnya, yaitu :
- Mencari gula :
- Mendatangkan gula.
- Menciptakan gula.
- Menjual gula.

ad-1. Mencari gula :
Keluarlah dari kampung seperti si-Tagor jadi jenderal si-Tigor jadi pengusaha, kalau kamu dikampung ini terus maka hidupmu akan seperti aku, sawah kita hanya yang sepetak itu saja. Pergilah merantau, disana adanya tulangmu, Inilah faktor pendorong.
Lihatlah si Tulus datang dari Jakarta pakai jeans dan rayben hitam,…… aduh gantengnya. Itu si Tiur dengan rambut dicat pirang, pakai you can see dan pegang handphone,…. cantik banget katanya. Itulah faktor penarik.
Hebatkan,……..!

ad-2. Mendatangkan gula :
Pada tahun 1983, gula dari pusat (trickle down efect) Kabupaten Tapanuli Utara lk 14 miliar rupiah saja inilah dana untuk pembangunan wilayah Silindung, Toba, Humbang dan Samosir. Kebijakan Otonomi daerah merupakan peluang bagi elit halak-hita untuk memekarkan diri menjadi 4 kabupaten, yaitu kabupaten Tapanuli Utara, Toba, Humbang dan Samosir.Hasil nyata : Dulu 14 miliar rupiah untuk 4 wilayah, sekarang 1,6 triliun untuk 4 wilayah (masing-masing wilayah memperoleh pagu lk 400 miliar) dan terdapatlah 4 noktah gula di 4 wilayah tersebut dan dikerumuni oleh 4 kelompok masyarakat halak-kita.
Hebat,……!

ad-3. Menciptakan gula :
Diciptakan dari SDA terpulihkan melalui berbagai perundingan antara elit halak hita dengan investor, berjalan lancar dan pada akhirnya sudah berbentuk prospektus dibursa-saham, ternyata adalah milik dari konglomerasi nasional dan internasional.

- PLTA Sampuran Siharimau.
- PT Toba Pulp Lestari.
- Sarulla geothermal.
Kawasan pariwisata Danau Toba, cerita kontroversi, sedemikian banyak orang yang mengelu-elukan keindahannya lalu sedemikian banyak pula yang “mangandungi” keadaannya (puisi Sitor Situmorang)
Kemudian………..
sawah pertama dilembah subur,
menghadapi danau warna hijau biru,
seperti pohon hutan kini kelabu batu.
ditengah kuning padang terancam punah.
Dikala kita mengharapkan kunjungan tourist domestic ataupun mancanegara ketempat kita, adalah sangat naif bila kita menerapkan konsep “marsolup dihundulan’ bagi mereka. Maka tidaklah mengherankan apabila ada anggapan dari beberapa investor : “bagaikan perawan cantik yang digerogoti usia, dengan bapak yang sangar, ibu cerewet, mahar tinggi kapan akan dipinang orang”
Ironi,…..!

ad-4. Menjual gula :
Dimanakah sekarang bukit putih hasil endapan deposit senyawa sulfat dan Calcium carbonate Sipoholon, Rimba ciptaan di pulau Samosir, Pohon aloban di punggung Samosir.
Pada tahun 1985 saat peresmian pembangunan ferry Parapat-Tomok, Pak Sitanggang meyakini ini adalah pendekatan teknologi mengurangi keterbatasan sarana transformasi, yang sekaligus memberikan efek menghapus kemiskinan di Samosir, selanjutnya pada tahun 2000 bercerita lagi. Semula saya memimpikan akan semakin mudah gula masuk ke Pulau Samosir, ternyata sungguh tak terbayangkan bahwa yang terjadi adalah mempermudah keluarnya gula dari Samosir, buktinya semakin gundul.
Amang oi,………

Written by sintanauli

Januari 5, 2007 pada 12:21 am

Ditulis dalam cerita lama

Ditandai dengan

Tinggalkan Balasan