taradigading

Just another WordPress.com weblog

Warna warni bendera dan nomor di Pematangsiantar

leave a comment »

Saya lebih menyukai nomor 0,5 karena cuma satu rupiah, kata Nai Tongam boru Sidauruk. Oh tidak saya lebih senang pada nomor 26 karena produk ini bisa menghilangkan bau ketiak dan selalu saya gunakan “Rexona” demikian diungkapkan yang lain.
Bukan itu,……! jelas seseorang. Nomor yang dimaksud adalah nomor 1 sampai 38 dibendera partai politik kok.

Oh, itu maksudnya,………… Saya tidak bisa lagi membedakan bendera yang begitu beragam, kalau di Jakarta ada bintang sinetron, bahkan pelawakpun ada. Sedang di Pematangsiantar ini siapa yah ? Katanya yang menjadi ‘calon jadi’ adalah ‘muka lama’, bintang demonstran, dan caleg-kejutan. Ah,… Ta pabereng-bereng ma. kata Pak Turnip mengakhiri pembicaraannya.

si-A loncat ke partai X, B loncat ke partai Y dan C loncat ke partai Z untuk memperebut nomor jadi, Bayar dengan segepok uang kata Marpaung. Semuanya ini menunjukkan sikap tiada lagi “idiologi partai”. Anggota legislatif sudah menjadi lapangan kerja, kata Hutahaean menambahkan.

GM dalam esai catatan pinggirnya “Bintang” mengatakan : Kita sedang menyaksikan semacam nihilisme, dengan paras yang cantik. Ketika partai-partai politik tak lagi memaparkan apa yang mau mereka capai dengan bersaing dalam pemilihan umum, ketika mereka cuma memajang bintang sinetron untuk membujuk orang ramai, kita pun tahu: politik telah berubah. Kita tidak lagi hidup di abad ke-20. Kita tengah memasuki ”sindrom Italia”.

Kira-kira inikah fenomena kesadaran politik di Pematangsiantar ?.
Dimana ? Ngapain ? Sama siapa ? Pacar posesif ?
Semacam sindroma Italia, dimana partai-partai yang bersaing dalam pemilu caleg memajang wajah-wajah yang dianggap “pop” ?
Tentu belum dapat dipastikan, hanya sedemikian menyesakkan dada, Proses democrazy ?

Written by sintanauli

September 8, 2008 pada 12:15 am

Ditulis dalam pematangsiantar

Tagged with

Tinggalkan Balasan