Cory Aquino telah pergi
Filipina mengumumkan 10 hari berkabung untuk mantan Presiden Cory Aquino, yang meruntuhkan Marcos dengan revolusi “people power.”
Corazon Aquino, yang memimpin Republik Filipina selama enam tahun, meninggal setelah
mengidap akibat kanker pada usia 76 tahun.
“Ibu kami meninggal dalam damai pada pukul 0318 [0218 WIB Sabtu] akibat cardio-respiratory arrest,” kata putra mendiang, Senator Benigno Aquino Jr, kepada media.
Bendera nasional dikibarkan setengah tiang, dan ratusan warga mengikatkan pita kuning ke mobil dan pohon.
Aquino menderita kanker usus besar selama lebih dari satu tahun, dan baru-baru ini menolak menjalani perawatan lanjutan.
Memimpin revolusi
Dia memimpin revolusi kekuatan rakyat terhadap pemerintah Presiden Ferdinand Marcos pada tahun 1986, setelah dia dengan berat hati terpaksa terjun ke dunia politik pasca pembunuhan suaminya, Benigno Aquino, seorang tokoh penentang utama rezim Marcos.
Masa kekuasaan Aquino yang berlangsung enam tahun ditandai dengan kekecewaan publik dan serangkaian percoba kudeta.
Namun, revolusi damai yang dipimpin Cory Aquino dinilai mengilhami gejolak kebangkitan politik serupa, khususnya di kawasan Eropa timur.
Ratusan orang berkunjung ke kediamannya dan tugu peringatan tempat revolusi 1986 yang dia pimpin mencapi puncak. Mereka meninggalkan bunga warna kuning dan menyalakan lilin.
Jasad Aquino akan disemayamkan secara kenegaraan di sekolah Katholik De La Salle di Manila mulai Sabtu hingga Senin pagi.
Dia akan dikebumikan di sisi suaminya di Manila Memorial Park dalam suatu upacara pemakaman tertutup hari Rabu, kata putra mendiang.
Presiden Filipina Gloria M Arroyo mengatakan: “Cory Aquino membantu memimpin revolusi yang memulihkan demokrasi dan supremasi hukum untuk bangsa kami pada saat yang sangat berbahaya.”
Presiden Amerika Serikat Barack Obama juga menyatakan hormat kepada Aquino.
Jurubicara Obama, Robert Gibbs mengatakan, dia memainkan peran sangat menentukan dalam sejarah Filipina.
sumber: bbc.co.uk