taradigading

Just another WordPress.com weblog

Archive for the ‘cerita lama’ Category

Foto ketika mudik

without comments

dscn0023

Ingwer Ludwig Nommensen, lahir 6 Februari 1834 di Pulau Noordstrand, meninggal tanggal 12 Mei 1918 dan dikuburkan di Sigumpar. Pendiri gereja Dame Saitnihuta. Dan dikenal luas di Tanah Batak dengan gelar Ompui Nomensen.

sigeaon

Mendung,… Sungai Sigeaon  yang membelah kota, banyak peristiwa nostalgik bagi saya,  dulunya adalah tempat berenang, bergaya tarzan melompat dari pohon beringin yang tumbuh sepanjang dam,  mencari ikan (walupun kecil-kecil).  2 Januari 2009.

Written by sintanauli

Januari 4, 2009 at 12:00 am

Ditulis dalam cerita lama

Kiat pembangunan halak hita.

without comments

Setitik noktah gula yang kita letakkan disuatu tempat akan mengundang kerumunan semut yang kita tidak tahu darimana datangnya. sehingga pepatah “dimana ada gula disitu ada semut” tidak perlu disangkal lagi.

Gula dan semut menjadi kiasan antara modal dan masyarakat.
Cerita ini adalah kisah “pembangunan” yang terlihat sejak tahun 1970-an sampai tahun 2000-an diwilayah yang menyebut dirinya “halak hita” (masyarakat dan elite-nya).

Secara garis besar ada 4 modelnya, yaitu :
- Mencari gula :
- Mendatangkan gula.
- Menciptakan gula.
- Menjual gula.

ad-1. Mencari gula :
Keluarlah dari kampung seperti si-Tagor jadi jenderal si-Tigor jadi pengusaha, kalau kamu dikampung ini terus maka hidupmu akan seperti aku, sawah kita hanya yang sepetak itu saja. Pergilah merantau, disana adanya tulangmu, Inilah faktor pendorong.
Lihatlah si Tulus datang dari Jakarta pakai jeans dan rayben hitam,…… aduh gantengnya. Itu si Tiur dengan rambut dicat pirang, pakai you can see dan pegang handphone,…. cantik banget katanya. Itulah faktor penarik.
Hebatkan,……..!

ad-2. Mendatangkan gula :
Pada tahun 1983, gula dari pusat (trickle down efect) Kabupaten Tapanuli Utara lk 14 miliar rupiah saja inilah dana untuk pembangunan wilayah Silindung, Toba, Humbang dan Samosir. Kebijakan Otonomi daerah merupakan peluang bagi elit halak-hita untuk memekarkan diri menjadi 4 kabupaten, yaitu kabupaten Tapanuli Utara, Toba, Humbang dan Samosir.Hasil nyata : Dulu 14 miliar rupiah untuk 4 wilayah, sekarang 1,6 triliun untuk 4 wilayah (masing-masing wilayah memperoleh pagu lk 400 miliar) dan terdapatlah 4 noktah gula di 4 wilayah tersebut dan dikerumuni oleh 4 kelompok masyarakat halak-kita.
Hebat,……!

ad-3. Menciptakan gula :
Diciptakan dari SDA terpulihkan melalui berbagai perundingan antara elit halak hita dengan investor, berjalan lancar dan pada akhirnya sudah berbentuk prospektus dibursa-saham, ternyata adalah milik dari konglomerasi nasional dan internasional.

- PLTA Sampuran Siharimau.
- PT Toba Pulp Lestari.
- Sarulla geothermal.
Kawasan pariwisata Danau Toba, cerita kontroversi, sedemikian banyak orang yang mengelu-elukan keindahannya lalu sedemikian banyak pula yang “mangandungi” keadaannya (puisi Sitor Situmorang)
Kemudian………..
sawah pertama dilembah subur,
menghadapi danau warna hijau biru,
seperti pohon hutan kini kelabu batu.
ditengah kuning padang terancam punah.
Dikala kita mengharapkan kunjungan tourist domestic ataupun mancanegara ketempat kita, adalah sangat naif bila kita menerapkan konsep “marsolup dihundulan’ bagi mereka. Maka tidaklah mengherankan apabila ada anggapan dari beberapa investor : “bagaikan perawan cantik yang digerogoti usia, dengan bapak yang sangar, ibu cerewet, mahar tinggi kapan akan dipinang orang”
Ironi,…..!

ad-4. Menjual gula :
Dimanakah sekarang bukit putih hasil endapan deposit senyawa sulfat dan Calcium carbonate Sipoholon, Rimba ciptaan di pulau Samosir, Pohon aloban di punggung Samosir.
Pada tahun 1985 saat peresmian pembangunan ferry Parapat-Tomok, Pak Sitanggang meyakini ini adalah pendekatan teknologi mengurangi keterbatasan sarana transformasi, yang sekaligus memberikan efek menghapus kemiskinan di Samosir, selanjutnya pada tahun 2000 bercerita lagi. Semula saya memimpikan akan semakin mudah gula masuk ke Pulau Samosir, ternyata sungguh tak terbayangkan bahwa yang terjadi adalah mempermudah keluarnya gula dari Samosir, buktinya semakin gundul.
Amang oi,………

Written by sintanauli

Januari 5, 2007 at 12:21 am

Ditulis dalam cerita lama

Ditandai dengan

Apotik generik, usulan ke Pemko Pematangsiantar.

without comments

Kisah ini juga sudah lama ditahun 2001, namun hingga kini belumlah terwujud walaupun banyak para pembuat kebijakan dan politisi mengamini urgensi.

Bila diperhatikan kegiatan diberbagai apotik kota Pematangsiantar pada jam-repot, maka sering ditemukan hal kecil yang terabaikan dan tidak terpikirkan namun krusial , pada saat transaksi pembayaran resep dokter dari praktek sore, dari RSU bahkan dari Puskesmas.

Kasus-A : Konsumen membeli obat sesuai dengan resep dokter, setelah disesuaikan dikemas pada saat membayar akan terperangah melihat harga obat tersebut, akhirnya konsumen hanya membeli separuh saja ataupun mengurangi salah satu komponen resep agar harganya sesuai dengan kemampuannya.

Kasus-B : Konsumen meminta apakah tidak ada obat lain yang lebih murah, dan akan dijawab pihak apotik bahwa dibawah resep ada nota resep tidak dapat diganti tanpa seijin dokter

Kasus-C : Konsumen ahkirnya membatalkan membeli obat setelah keliling-keliling diberbagai apotik. Mungkin didalam hatinya berdoa “Terserah padamu Tuhan”.

Kasus-D : Konsumen ahkirnya memilih pengobatan alternatif.

Bagaimana yah,…. Pemerintah kota ini dapat memberikan yang terbaik bagi masyarakatnya.(drgsubur)

      Written by sintanauli

      November 25, 2006 at 1:30 am

      Ditulis dalam cerita lama

      memperjuangkan honor kader posyandu di Pematangsiantar

      without comments

      Kejadian ini ditahun 2001, sudah lama. Saya sendiri, jelas sudah digaji oleh Pemerintah sebagai pelayan masyarakat dibidang kesehatan kadang terpikir juga sudahkan layak gaji yang kuterima ini, itulah pandangan satu sisi. Pada sisi yang lain (saya sebagai pimpinan wilayah dibidang kesehatan dipuskesmas  Aek Nauli Pematangsiantar) selalu memberikan perintah kepada kader kesehatan ibu-ibu diposyandu agar begini dan begono, apakah yang menjadi dasar motivasi-nya,……………………Tidak adil.

      Hal yang mendasar ini harus diperjuangkan ketingkat lebih atas,…….Perjalanan ini cukup berliku-liku didalam pusaran politik lokal di Pematangsiantar. Saya mengusulkan kepada Dinas Kesehatan agar memasukkan “pengganti transport kader” didalam RAPBD-kesehatan, namun dalam proses lobbynya kepihak DPRD, mereka lempar handuk, namunpun demikian memperbolehkan saya “lonely soldier” untuk proses lebih lanjut.

      Hasilnya : Usulan itu ditampung dalam APBD dan disahkan, dan terealiser dalam nomor mata anggaran pada Dinas Kesehatan Pematangsiantar, sampai sekarang,………….dan ada sesuatu “yang unik” mengenai mata anggaran ini.

      Mudah-mudahan ibu-ibu diposyandu semakin termotivasi. (drgsubur)

      Written by sintanauli

      November 25, 2006 at 1:25 am

      Ditulis dalam cerita lama

      Puskesmas Aek Nauli dan saya

      with one comment

      Pada tahun 1986, saya berpindah tugas dari Dinas Kesehatan Kabupaten Tapanuli Utara ke Dinas Kesehatan Kota Pematangsiantar, dan ditempatkan di Puskesmas Aek Nauli diwilayah Kelurahan Aek Nauli Kecamatan Siantar Selatan.

      Cukup lama, 19 tahun bertugas disini sampai tahun 2005, sebagai dokter gigi dan pimpinan Puskesmas. Hubungan emosional dengan tugas, dengan pasien dan masyarakatnya terjalin dalam rentang waktu yang demikian lama.

      Inilah ruang bagi saya, saya sebagai dokter igi, sebagai pimpinan puskesmas dengan segala keterbatasannya. Tidak jauh berbeda seperti di Puskesmas yang ada di Tapanuli Utara, hanya letaknya dipinggiran kota Pematangsiantar.

      Saya teringat akan beberapa hal yang saya temukan dalam melakukan kegiatan Puskesmas.

      1986, Immunisasi bayi dan balita, masih merupakan hal yang baru disini, memperkenalkan program immunisasi harus ditempuh dengan segala cara. Saya membuat pengumuman tentang immunisasi bagi bayi dan balita dengan huruf capital yang besar dikantor Lurah (kebetulan disamping Puskesmas ini) IMMUNISASI BAYI BALITA UNTUK PENCEGAHAN TBC, TETANUS, BATUK REJAN,…….GRATIS,

      Tiba hari H, maka hanya 1 orang saja ibu yang membawa anaknya untuk immunisasi dimaksud.

      Beberapa hari kemudian, saya mendengar suara megaphone dari Dinas Peternakan dengan pengumuman, VAKSINASI ANJING, BAYAR SEKIAN RUPIAH. Tiba hari H, Wah,….ramai sekali semua yang memelihara anjing, masing-masing membawa anjingnya, bahkan menggendong anjingnya untuk divaksin.

      Didepan Puskesmas, terdapat sumber air-kran PDAM yang mengucur setiap hari, yang disediakan PDAM untuk masyarakat di kelurahan Aek Nauli. Salah seorang gadis disini menjadi perhatian saya disamping cantik juga ketekunan nya menjunjung sekian ember air setiap hari untuk dibawa kerumahnya.

      Saya bertamu kerumah sigadis, ngerumpi cukup lama.
      Pada akhirnya saya merasa perlu kekamar mandi untuk buang air kecil. Saya pertanyakan kepadanya dimana kamar mandinya. Saya terbengong, karena saya disuruh kebelakang sana (maksudnya, kesungai).
      Jadi kalau demikian kemana kamu kalau mau buang air ? Kesungai !
      Kemana kamu mandi? Kesungai sana!
      Kalau demikian untuk apa air yang sekian ember setiap hari kamu jinjing itu.

      Wah itu untuk memandikan ternak babi.

      Walahhhh…………..nunga sega.

      Written by sintanauli

      September 13, 2006 at 5:21 am

      Ditulis dalam cerita lama

      Mentok, pengajuan Pusk.AN sebagai unit swadana daerah

      without comments

      Kisah ini adalah kisah lama, nostalgik ketika saya sebagai pimpinan Puskesmas Aek Nauli di Kecamatan Siantar Selatan. Mentok dan frustratif menghadapi sirkus para pejabat otorita yang terkesan menjadi pemain politik.

      Setelah melalui berbagai pendekatan-pendekatan yang pada akhirnya Puskesmas Aek Nauli dengan contact person saya sendiri (karena begitulah maunya lembaga luar-negeri) mempunyai kontak dengan ELCA Kentucky, mendapat kunjungan Holland-Medic dan hubungan langsung dengan Senior Health PHP-II Worldbank di Jakarta dengan berbagai kemungkinan dukungan untuk mewujudkan Puskesmas Aek Nauli sebagai pilot proyek Puskesmas swadana di Sumatera Utara. Berbagai proposal telah dikirimkan kepihak-pihak pemberi dukungan.

      Maka sesuai dengan prinsip Capacity Building, diperlukan kejelasan ‘kelembagaan’ Puskesmas Aek Nauli, maka ditempuh usaha-usaha sebagai berikut :

      1. Pada 1 Desember 2004, diusulkan Renstra Puskesmas Aek Nauli tahun 2005-2009, yang disampaikan kepada Dinas Kesehatan Kota Pematangsiantar, dan satu lagi saya sampaikan langsung ke Walikota Pematangsiantar (drs.Marim Purba) renstra-puskesmas-an-2005-2009.pdf
      2. Untuk melengkapi pengusulan, disampaikan juga draft surat keputusan Walikota Pematangsiantar. draft-sk-wako-tentang-swadana-pusk-an.pdf
      3. dilampirkan draft-sk-wako-tentang-protap-pan.pdf
      4. Sebagai kegiatan sosialisasi perencanaan ini, dalam kesempatan Seminar Kesehatan di Kota Pematangsiantar di Siantar hotel, saya mempresentasikan slide show renstra Pusk AN 2004-2009.pdf
      Hasil seminar (yang merupakan rekomendasi dari peserta seminar) diterima langsung oleh Walikota dan DPRD Kabupaten Pematangsiantar, adalah :
      1. Di RSU Pematangsiantar, perlu dibangun Sistem Informasi Rumah Sakit.
      2. Agar diterbitkan surat keputusan penetapan Puskesmas Aek Nauli sebagai unit swadana daerah.

      Pada seminar ini juga dibicarakan (antara saya dengan DRPD (Lingga Napitupulu) dan Walikota (Drs M.Purba) tentang rencana dan pembiayaan pengiriman instrument medis dari Holland medic (karena point agreement dengan yang mereka inginkan adalah kepastian dari contact person yang mewakili Pemko Pematangsiantar dan kepastian penanggulan pembiayaan container dari Rotterdam-Belawan dan  asuransi yang berkenan dengan itu). Keputusan tidak dapat diperoleh pada saat itu.

      Akhir cerita, perencanaan ini gagal, karena beberapa minggu kemudian walikota Drs Marim Purba telah dilengserkan dan digantikan oleh Drs Nabari sebagai pelaksana walikota.

      Selanjutnya tinggal cerita dan hubungan dengan pihak yang memberikan dukungan terputus demikian saja, karena tidaklah mungkin dilakukan pengembangan kapasitas lebih lanjut tanpa ‘kelembagaan’ yang jelas.

      drgsubur.

      Written by sintanauli

      September 13, 2006 at 4:48 am

      Ditulis dalam cerita lama

      Aek Sarulla tudia ho lao.

      without comments

      Sebuah bunga rampai dari berbagai situasi dan kondisi ketika penulis bertugas sebagai Kepala seksi Penyuluhan Kesehatan di Dinas Kesehatan Kabupaten Tapanuli Utara pada tahun 1981 sampai 1986.   Kisah ini disalin kembali dari versi ketikan zaman dulu ke versi komputer, tanpa merobah-robah isinya, dengan tujuan “begitulah horizon saya pada ketika itu”

      PENDAHULUAN

      Aek Sarulla tu dia ho lao,……

      Tung ganjang ma antong dalanmi,

      Sai paboa majolo tu ahu

      Ni idam ditongan dalan ni.

      Boan barita sian nadao.

      Patuduhon hi nauli mi

      Antong ro ma husiphon tu ahu.

      Aek Sarulla tudia ho lao……….

      Aek Sarulla, nama sungai di Kecamatan Pahae Jae Kabupaten Tapanuli Utara sedang Aek Sarulla tu dia ho lao,…….adalah judul nyanyian rakyat ciptaan komponis Nahum Situmorang, yang secara romantis menggambarkan penantian akan sesuatu.

      Judul ini menjadi pilihan karena makna syair yang memberikan goresan dalam akan penantian Tapanuli Utara, setelah sedemikian lama dan pengharapan akan pembangunan yang akan dilakukan oleh dirinya sendiri.

      Dasar penguraian dan titik tolak adalah :

      1. Community self survey, suatu metode pendekatan Pembangunan Kesehatan Masyarakat Desa dengan tujuan identifikasi masalah masyarakat desa, masalah masyarakat yang ditemui didiskusikan dan dicarikan prioritas masalah, serta pemecahan rnasalahnya. Ternyata konsep CSS yang semula bertitik berat pada kesehatan tersebut mengungkapkan berbagai masalah masalah lintas sektoral, sehingga pemecahan masalah itu haruslah secara “total system”. Hampir diseluruh kecamatan dan desa demikian permasalahannya. (Kesan yang terdalam diperoleh adalah di pertemuan lintas sektoral di Kecamatan Lintong Nihuta dalam rangka pengembangan program PKMD yang pesertanya adalah para instansi lintas sektoral dan kepala desa. Commite steering adalah dibidang Keluarga Berencana dan Kesehatan saja mengakibatkan mereka hanya sebagai pendengar belaka. Tetapi begitu topic dialihkan kedalam topic yang mereka fahami, barulah timbul feedback dan respon mereka dalam mencari pemechan masalah). Berbagai hasil diskusi seperti inilah yang dikumpulkan dalam buku ini.
      2. Data yang diperoleh dari penelitian (data primer) penulis dan dari data sekunder dari berbagai sumber.
      3. Pengalaman penulis sendiri sebagai seorang wiraswasta (tukang radio) dan sebagai peternak dan petani gagal di Bahal Batu Kecamatan Sipoholon pada tahun 1979, sebelum menyelesaikan pendidikan di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara.

      Pada bagian pertama dari buku ini, diuraikan berbagai masalah dipedesaan Kabupaten Tapanuli Utara.
      Pada bagian kedua diuraikan tentang berbagai pendapat intern dan exter Tapanuli Utara dan Pemecahan masalahnya dan berbagai pandangan sehingga konsep “Small is Beautiful” tidaklah merupakan kunci utama pemecahan masalah dipedesaan di Kabupaten Tapanuli Utara.

      Pada bab-I,
      penulis menguraikan tentang berbagai nasalah kependudukan di Tapanuli Utara, sehingga pendapat yang menyatakan kita “kekurangan penduduk” dapat terjawab dan menjadi pernyataan yang harus ditanggalkan, tetapi yang perlu dipikirkan adalah “bagaimana mendatangkan gula terlebih dahulu, kemudian semut akan dating sendirinya”.
      Secara khusus diuraikan tentang program Keluarga Berencana-Kesehatan yang dikerjakan setengah hati untuk mengejar target dan terbentuk pada tembok sedemikian tingginya di masyarakat itu sendiri dan menjadi suatu dilemma yang tidak kunjung reda.

      Pada bab-II,
      dituliskan tentang transformasi Tapanuli Utara dari “gudang intelektual” menjadi “gudang calon intelektual”, yang menjadi debat dikalangan pemuka masyarakat Tapanuli Utara karena kenyataan yang mereka dapati adalah “hanya segelintir kecil saja yang masuk Sipenmaru”, suatu tinjauan yang melihat indicator output pendidikan itu belaka dengan melupakan indikator inputnya “sianak sebagai peserta didik” dan indicator proses “kesiapan dari orang tua”.
      Dalam uraian ini dilukiskan tentang lahirnya seorang “tradisi besar” dengan dukungan kesederhanaan desa dan benturan-benturan pendidikan non-formal dipedesaan.

      Pada bab-III,
      diuraikan tentang mereka yang menempati “gerbong terakhir yang sarat sarat muatan”. Mereka adalah orang sederhana yang dibebani oleh tradisi dan cita-citanya untuk memajukan pendidikan anaknya. Tanah itu adalah persoalan mati-hidup bagi mereka, sebab dari sanalah untuk pangan, sandang, pesta dan sekolah anak. Mereka bergerak dinamis dalam mengatur keseimbangan kebutuhannya dan memecahkan masalahnya menurut strategi yang sederhanya. Penuh ketekunan untuk penghidupannya, dengan tonggak keluarga siayah dan tonggak rumah tangga si-ibu (bukan hanya tonggak dapur keluarga).

      Latar belakang sejarah, alamnya, budayanya dan manusianya membentuk masyarakat di Tapanuli Utara menjadi “anak alam”, tetapi dengan cita-cita yang teguh “Anakhonhi do hamoraon di ahu” tanpa dapat ditawar lagi mereka menyekolahkan anaknya setinggi mungkin, seluruh potensi dikerahkan untuk memberhasilkan pendidikan anak, akhirnya berhasil mewujudkan seorang anak yang penuh ketajaman analisa ala Einstein serta menjadi penakluk alam.

      Mendengar berita “disana banyak gula”, melihat pemuda-pemudi dari rantau begitu gagah dan cantik “dengan blue jeans dan lipstiknya”, mengingat keterbatasannya didesa dan didorong “sifat kaki yang tidak pernah diam”, maka para pemudanya memutuskan tekad merantau dengan rnodal utama “saya marga ini” . Disana mereka memperoleh cita-citanya karena tekad yang kuat dan kerja keras. Mereka menjadi pemikir reflektif.

      Didesa, mereka selalu kehilangan-relatif.
      Tenaga muda yang membantu pak-tani selama ini mencangkul dan menyiangi sawahnya telah pergi, hasil penjualan produknya sebagian harus dikirimkan bagi anaknya yang disekolahkan, itu tidak perlu dipersoalkan yang penting cita-citanya harus tercapai.

      Disini dibentuk Serikat Tolong Menolong, disana dibentuk kelompok marga, keduanya bentuk koalisi polyadic single strainded horizontal. Secara keseluruhan mereka dihubungkan oleh konstruksi adat Dalihan Natolu.

      Pada bagian kedua buku ini, mempunyai hubungan dengan bagian pertama dan apabila dibagian pertama banyak berkaitan dengan sebelum tahun 1985 maka pada bagian kedua banyak berkaitan dengan tahun 1985 dan rencana-rencana yang akan dilaksanakan. Dalam bagian ini diungkap kan berbagai pendapat, rencana dan kegiatan masyarakat “halak kita” dalam pembangunan.

      Bergerak dari sektor agraris-tradisionil menuju agro-bisnis, industri yang didukung pertanian yang mantap.
      Vektor percepatan pembangunan itu ternyata berada ditangan masyarakat dan gerak pembangunan itu di gerak langkah mereka sendiri, dan mereka mulai bergerak.

      Mudah-mudah buku ini berrnanfaat, khususnya bagi provider yang bekerja dan bertugas dipedesaan Tapanuli Utara.

      -drg. Subur.R

      PERNYATAAN TERIMA KASIH

      Pengalaman dan kesan saya didaerah tersayang ini, pada mulanya merupakan sejumlah keping-kepingan peristiwa dan fakta bercampur aduk dan menjadi tanda tanya besar, kok begini…………. Akhirnya berhasil saya wujudkan dalam buku ini serta saya banyak berhutang budi kepada mereka secara intelektual dan personal, membantu saya dalam menyusun keeping demi keeping peristiwa didesa menjadi suatu induk peristiwa yang saling berkaitan satu dengan lainnya.

      Dengan rasa terima kasih saya teringat kembali akan pertemuan saya dengan :

      1.

      dr.A.Sani Siregar MPH di Medan, tentang penjelasan konsep Community Self Survey dalam pendekatan PKMD, inilah titik awal terhimpunnya berbagai kepingan peristiwa.

      2.

      dr.T.M.Panjaitan SKM di Medan, tentang konsep “total system”

      3.

      Drs.G.Sinaga. Bupati/KDH tk-II Tapanuli Utara, yang tidak kenal lelah dan keluh, masih menyempatkan dirinya menjelaskan pola dasar pembangunan Kabupaten Tapanuli Utara dalam Pelita-IV, secara khusus mudah-mudahan beliau tetap sehat wal’afiat.

      4.

      Para teman sejawat, dokter-dokter, petugas kesehatan di Kabupaten Tapanuli Utara yang memberikan banyak masukan-masukan berharga.

      5.

      A.M. Marpaung MPS di Medan MPS, menjelaskan konsep perbaikan Gizi Rakyat di Indonesia.

      6.

      Ir.T.P Hutapea, beliau sebagai “dosen nonformal” bagi saya dan banyak menjelaskan tentang konsep pertanian rakyat di Tapanuli utara.

      7.

      Drg. B.P.G Silitonga, tentang pokok-pokok progran Kependudukan dan keluarga berencana di Kabupaten Tapanuti Utara.

      8.

      A.R.Siahaan, tentang konsep Pendidikan masyarakat di Tapanuli Utara dan kesan beliau tentang berbagai upacara masyarakat yang dilakukan didesa.

      9.

      D.Naibaho, staf Dinas Kesehatan Kabupaten Tapanuli utara yang selama “hampir 4 tahun” dengan semangat menjelaskan kehidupan di Samosir, membawa saya mengunjungi pelosok desa Samosir.

      10.

      Para intelektual, peserta seminar HKBP tanggal 2-4 Oktober di Tomok, yang secara tidak langsung memberikan banyak masukan yang sangat herharga.

      Setiap keping peristiwa didesa, mengingatkan saya akan kegembiraan, kekecewaan dan kadang-kadang nyaris terjadi kecelakaan bersama teman seperjalanan,………….berkat lindungan Yang Maha Esa kita selamat.

      Dan kepada mereka saya ucapkan terima kasih :

      1.

      Ny.G.Sinaga beserta seluruh Tim Penggerak PKK Kabupaten dan Kecamatan atas kerja sama yang dibina selama ini.

      2.

      Para Bapak camat se-Kabupaten Tapanuli Utara, yang memberikan masukan dan menyertai perjalanan kami didesa-desa didalam berbagai kegiatan.

      Desa di Tapanuli Utara, memberikan kesan dualisme yang saling bertentangan ; dibalik kekejaman lingkungan, kedinginan hawa pegunungan dan kesederhanaanya menonjol nyata rasa intim, hangat dan mesra bagi diri saya.

      Kenangan manis dan terima kasih dari saya bagi mereka :

      1.

      Bapak Kepala desa dan ibu disetiap yang saya kunjungi, memberikan masukan bagi diri saya.

      2.

      Team Penggerak PKK desa dan kader pembangunan desa.

      3.

      Bapak petani, khususnya ibu petani: mengingatkan saya akan gurihnya jagung dan ubi rebus yang baru diambil dari ladangnya.

      4.

      Bapak petani kemenyan didesa Siandor-andor kecamatang Tarutung dan desa Lumban Garaga Kecamatan Pahae Jae ; mengingatkan saya akan kelezatan buah duriannya.

      5.

      Ibu penenun ulos dan khusus bagi gadis desa penenun ulos diberbagai desa kecamatan Tarutung; mengingatkan saya akan hangatnya kopi yang merembes melalui kerongkongan dikala kedinginan malam dan rasa intim dalam memberikan penjelasan mereka.

      6.

      Bapak guru didesa dan khususnya ibu guru desa di Hutaraja Kecamatan Sipoholon dan desa Simanampang Kecamatan Pahae Julu ; mengingatkan saya akan perjalanan khusus yang menggembirakan menuju obyek penelitian.

      7.

      Adik remaja Tornados Clubs dan pelajar SMTA HKBP Tarutung ; mengingatkan saya akan cita-cita mereka yang sedemikian tinggi.

      8.

      Adik-adik peserta didik Sekolah Dasar dibanyak pedesaan : mengingatkan saya tentang “manusia polos”.

      9.

      Adik-adik Balita dibanyak pedesaan ; merupakan sumber informasi nonverbal dan fakta.

      10.

      Kepada semua pihak yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu, turut serta dalam membantu saya secara langsung ataupun tidak langsung.

      Kepada Bapak, Ibu dan Adik-adik manis di “gerbong terakhir”, kembali lagi saya ucapkan terima kasih sebesar-besarnya, sedemikian besarnya beban mereka dalam menanam padi untuk saya mmakan.

      Dan dapatlah kiranya saya nyatakan bahwa buku ini adalah buku mereka.

      Penulis menyadari, kekurangan-kekurangan, subyektivitas dalam buku ini. Tetapi dengan berprinsip “yang saya lakukan besok akan lebih baik daripada sekarang”, maka dengan segala senang hati saya menerima bahkan mengharapkan kritik dan saran demi perbaikan.

      Akhirnya, puji dan syukur saya panjatkan kehadirat yang Maha Esa atas rakhmat dan ridhoNya hingga buku ini dapat saya selesaikan dan mudah-mudahan bermanfaat

      -Subur.R

      Pendahuluan

      bab-i    Tapanuli Utara – Kependudukan

      bab-ii   Tapanuli Utara – Generasi muda – Pendidikan

      bab-iii  Tapanuli Utara – Petani – Adat

      Mereka,…… ditongan dalan i

      Written by sintanauli

      September 11, 2006 at 11:57 pm

      Ditulis dalam cerita lama

      Make they are smile,…..nicely

      without comments

      Tarutung 26 Juni 2002 : Kegiatan ini kita laksanakan setelah kita rencanakan bersama teman-teman (dr.Suryanto Muskita, dr T.H.Simatupang, dr.Albiner Simarmata dan saya) setelah dikonfirmkan kepada Drs.R.E.Nainggolan (Bupati Tapanuli Utara) dan dr.Tahim Solin (direktur RSUD Tarutung)

      Kegiatan ini dilaksanakan seharian penuh dengan jumlah penderita sumbing sebanyak 37 orang. Kegiatan ini bersifat sosial, tanpa dipungut pembiayaannya

      -
      .

      Written by sintanauli

      Januari 22, 2006 at 2:17 pm

      Ditulis dalam cerita lama