Archive for the ‘renungan’ Category
Tokoh pendidikan lokal Adnan Djasim,… sebuah renungan
Saya cukup lama kenal dengan beliau sejak tahun 1980; Tokoh dan sesepuh Muhammadiah Simalungun, bertubuh kecil dengan karya yang besar dibidang pendidikan di kabupaten Simalungun, dengan mendirikan perguruan Satrya Budi 1957 mulai dari sekolah dasar hingga lanjutan atas dan kemudian berkembang sampai di Perbaungan.
Saya mengingat kembali, dirumahnya (2004), secara sekilas beliau mengisahkan tentang perjuangannya dibawah tahun 1957 bersama dengan tokoh-tokoh pendidikan nasional, tetapi dia lebih berkonsentrasi lokal dengan mendirikan Satrya Budi. Saya menganjurkan agar beliau meluangkan waktunya untuk menuliskan biografi yang nantinya akan diteladani yang muda. Secara nonformal, saya menyampaikan hal ini kepada Pak Hugo Silalahi yang pada saat itu adalah Bupati Simalungun, agar membantu beliau untuk menerbitkan biografinya. Bagaimana akhirnya saya tidak tahu lagi.
Adnan Djasim,….. “Kita semuanya adalah mahluk ciptaan Tuhan dan itu jangan dibuat persoalan”, kata beliau ketika membicarakan topik ‘dialoque interfaith’ sebuah proposal dari Lutheran World Federation. “Pendidikan nonformal sangat penting”, kata beliau ketika kita membicarakan topik ini dalam sebuah proposal dari World Bank. Saya terpesona pada sosok tubuh yang kecil dan kurus yang mempunyai wawasan demikian luasnya.
Pada pertemuan yang terakhir, beliau sangat mengkhawatirkan keberlanjutan dari perguruan yang didirikannya, bahkan dr Sahala Nababan (teman, dokternya) telah menyarankannya untuk membuat wasiat.
Pada tanggal 7 malam hari (menurut keterangan kerabat beliau) dia mengalami kelemahan serius dan dibawa ke rumah sakit Horas Insani Pematangsiantar. Berbagai usaha medis dilakukan tetapi,……….. Kehendak yang Maha Kuasa berlaku, seorang hambanya telah dijemputnya meninggalkan dunia yang fana ini dengan usia 78 tahun.
Kasih,…. hands of love
Mudik,… bagi saya.
Barangkali,…. saya ini tidaklah terlalu awam dengan ‘global dan modern’, tetapi untuk yang satu ini tanpa memperhitungkan ruang dan waktu, saya memastikan diri harus pulang kesuatu titik (mungkin sulit dicari dipeta global) dipermukaan bumi ini dimana saya dilahirkan dan berangkat dulunya.
Mudik,….. bergerak kembali kemasa yang silam? konservatif?. Tentu saja tidak, karena kenyataannya negara inipun memfasilistasi arus mudik dari berjuta-juta manusia yang mudik pada moment tertentu.
Apakah yang akan saya lihat? Sebuah nostalgia atau ritus?
Peristiwa mudik pada akhir tahun, adalah moment penting bagi saya untuk kembali berkumpul dan bercengkerama dengan keluarga inti dan sanak kerabat :
- Mengenang kembali masa-masa lalu dan merajut masa depan untuk keutuhan hubungan sosial dan hubungan 2 budaya (budaya bona pasogit dan budaya pangarantoan).
- Komunikasi timbal balik, mendengarkan langsung pesan-pesan dari kampung dan menceritakan pengalaman diperantaun.
Diperantauan itulah ’status’ saya bagi mereka yang berada disana (administrasi pemerintahan) yang mempertegas adanya hubungan 2 budaya tadi.
Saya memutuskan,……… “Mudik”
Sebuah fragment sajak Sitor Situmorang
Si anak hilang kini kembali
tak seorang dikenalnya lagi
berapa kali panen sudah
apa saja telah terjadi?
Seluruh desa bertanya-tanya
sudah beranak sudah berapa?
Si anak hilang berdiam saja
ia lebih hendak bertanya
Selesai makan ketika senja
ibu menghampiri ingin disapa
anak memandang ibu bertanya
ingin tahu dingin Eropa
Anak diam mengenang lupa
dingin Eropa musim kotanya
ibu diam berhenti berkata
tiada sesal hanya gembira
Malam tiba ibu tertidur
bapa lama sudah mendengkur
di pantai pasir berdesir gelombang
tahu si anak tiada pulang
Renungan tentang X’mas
Curahan hujan lebat pada jam 19.30, acara kebaktian Natal 24 Desember saya ikuti di gereja Kalam Kudus Pematangsiantar, dengan menyaksikan berbagai kegiatan-kegiatan remaja dan anak-anak TK dan juga mendengar kotbah renungan Natal. Semuanya menarik dan menyenangkan.
Sungguh sangat komunikatif, penyampaian kotbah disertai dengan visualisasi power point wide-screen sehingga semakin mudah untuk dimengerti. Berbagai renungan disampaikan antara lain tentang sekilas kisah tentang tokoh yang berkaitan dengan peristiwa Natal, antara lain Raja Herodes, ahli astronomi Majus, Pengembala, orang Parisi dan ahli taurat, dan yang paling terakhir dan menjadi renungan adalah sikap kita sendiri dalam menghadapi Natal.
Yang paling menarik untuk menjadi renungan adalah, kecenderungan kehidupan kita dalam memahami dan dihubungkan dengan trend Christmas menjadi X’mas. Dalam wikipedia, bila ditinjau dari asal muasal kata Christmas yang disingkat menjadi X’mas adalah hal yang dapat dibenarkan. Namun penafsiran lebih lanjut menjadi beragam :
- Simbol penyaliban.
- Simbol protes dan sekularisasi
Dalam renungan pada malam ini, bertambah, simbol matematika. Karena dalam matematika ‘X’ adalah “yang harus dicari”. Sungguh ini menjadi renungan bagi saya. Malam ini perasaan saya sangat tersentuh untuk menemukan X dalam diri saya dan X adalah Kristus. (pematangsiantar 24 desember 2008)
bacaan :
Meaning of Christmas
Symbol of Christmas
Kartu pos Natal yang pertama.
Kartu Natal kartu berasal di Inggris 165 tahun lalu. Tepatnya pada tahun 1843, Sir Henry memerintahkan Yohanes Calcott Horsley untuk melukis suatu kartu dengan penampilan : panel bagian tengahnya menampilkan suatu keluarga bahagia yang saling peluk satu sama lain, menikmati anggur dan hidangan. Namun pada panel dikedua sisi, ingin menyampaikan pesan yang menyadarkan untuk membantu kebutuhan kaum fakir. Sedang dibawah panel terdapat teks ” Selamat Hari Natal dan Tahun Baru kepada kamu”. Legenda mengatakan bahwa Sir Henry tidak mengirimkan kartu natal ditahun berikutnya, tetapi kebiasaan menjadi populer.
Image source : smu.edu
Kini, berkat kemajuan teknologi SMS dan Email dengan berbagai animasi yang menarik telah membuat penggunaan kartu Natal mulai ditinggalkan.
sumber dan info lebih lanjut : 1, 2.
Merry Christmas and Happy New Years for you.
Foto unik bagi kami
Sebuah foto yang sangat menarik bagi kami, menurut kami ini adalah,………….. Taradigading-dang-dong.
Seorang perempuan tua dengan beban berat, disela-sela perselisihan antara para siswa Thapathali Engineering Collage dengan polisi di Kathmandu (sumber : telegraph. foto : EPA)
Jujur,….. “I” novelis
Saya juga berfikir dan bertanya dalam hati,…………., Adakah penulis yang menuliskan sejujurnya tentang hal yang paling memalukan dan hal yang tidak ingin diketahui orang lain tentang pengalaman hidupnya dalam sebuah novel ?
Kejujuran,….. Pengakuan,…. Kepedulian dan Pertobatan dari seorang Harumi Setouchi yang dikatakan “yang paling tidak mungkin menjadi biarawati”. Menjadi suatu renungan bagi saya pribadi. Thank for its article. Arigato, Eriko Arita.
The Japan Times online, Minggu 5 Okt 2008 : Dibawah curahan hujan lebat, tetapi pada awal September ribuan orang berjejalan di dalam dan di luar sebuah kuil di Joboji, timur laut Jepang, Prefektur Iwate, untuk mendengarkan khotbah Jakucho Setouchi.
Sebagai biarawati Buddha, dan salah satu penulis yang paling populer di Jepang, ia Setouchi dengan wawasan yang luar biasa tentang kehidupan, berbicara lancar dan humoris dan banyak kata-kata bijak didengarkan darinya.
(image source : japantimes. foto : Eriko Arita)
“Kami tidak tahu kapan kita akan mati,” kata Setouchi (86 tahun) kepada massa yang berkumpul. “Tetapi kita harus hidup untuk kehidupan yang penuh setiap hari tanpa penyesalan. Makan dan minuman apa yang Anda inginkan – dan jika Anda memiliki seseorang yang menyenangkan, pergi dan beritahu mereka bahwa Anda menyukai mereka.
“Tetapi jika Anda suka pada suami tetangga Anda, dia akan terluka. Ini hampir tidak mungkin, sementara menyenangkan bagi Anda, menyusahkan bagi orang lain. Saya rasa banyak diantara anda telah melakukan itu, dan saya juga tidak begitu banyak sekali,” katanya dengan tertawa.
Beberapa dari mereka mengatakan, bertubuh kecil, biarawati tua dengan energi yang besar memberi petunjuk mengenai warna-warni dan agak dramatis tentang kehidupannya.
Dikenali sebagai Setouchi, sebelum menjadi biarawati bernama Harumi, lahir di Prefektur (derah administratif) Tokushima pulau Shikoku pada tahun 1922. Belajar kesusasteraan di Tokyo Women’s Christian University, Jepang. Menikah pada usia 21 tahun. Kemudian pindah ke Beijing, mengikuti suaminya yang bekerja disana, dan melahirkan seorang anak perempuan di sana. Setelah Perang Dunia II berakhir pada 1945, keluarga ini kembali ke Jepang, tetapi selanjutnya ia jatuh cinta dengan seorang pemuda di usia 26, meninggalkan suami dan anaknya.
Setouchi mulai menulis novel di tahun 1950-an, dan pada usia 35 memenangkan hadiah untuk sastra “Joshidaisei Chu Ailing (Woman University Student Chu Ailing).” Walaupun dia novel berikutnya, “Kashin (Flower’s Core),” dicap sebagai pornografi oleh beberapa kritikus. Pada tahun 1963 dia menerima penghargaan bergengsi Women Literature Prize untuk novel “Natsu no Owari (The End of Summer),” dimana dia menjelaskan hubungannya dengan mantan suami, kekasih dan istrinya.
Tetapi, secara mengejutkan – sementara sibuk menulis novel dan esei – Setouchi menjadi biarawati Buddha pada usia 51.
Pada usia 70 ia menerima Junichiro Tanizaki Prize sebagai Japan’s top literary, untuk novel “Hana ni Toe (Ask the Flower),” dan pada tahun 2006 ditambah dengan International Nonino Prize untuk novel dan kegiatan sebagai biarawati Buddha.
Setouchi tidak hanya novelis. Dia juga seorang aktivis.
Ditahun 1991, dia melakukan suatu mogok makan menentang Perang Teluk; Kemudian dia mengumpulkan humanitarian supply ke Iraq; dan membuat suatu iklan di surat kabar nasional yang mencela invasi US ke Irak. Selain itu, Setouchi juga menentang keras hukuman mati di Jepang.
Setouchi bersemadi diatas humanitarian supply untuk Irak didalam suatu gudang Red Crescent Society di Amman, Jordan. April 1991. foto : Akio Haga.
Tahun ini Setouchi sangat sibuk, yang sekarang telah menerbitkan hampir 400 buku dan terus menulis, muncul di TV dan berbicara di kuil. Hal ini disebabkan karena pada tahun ini, menandai peringatan hari jadi “The Tale of Genji” oleh Murasaki Shikibu ke-1000 – sering dianggap sebagai novel pertama di dunia – dan Setouchi, menterjemahkan dalam versi Jepang modern yang diterbitkan pada tahun 1996, telah memberikan kuliah “Genji” diseluruh Jepang pada masa sekarang ini dan untuk beberapa bulan kedepan.
Walaupun jadwalnya ketat, namun, Jakucho Setouchi menyediakan waktu untuk berbicara dengan The Japan Times sebelum dia menyampaikan khotbah.
Dalam biografi terbaru dari Anda, oleh Shinji Saito, dia mengatakan bahwa sebagai penulis Anda mengikuti jejak dari philosophers perempuan Perancis Simone Weil atau Simone de Beauvoir. Apa yang ada pikirkan tentang itu?
Ini adalah sebuah pernyataan yg sedikit berlebihan, tetapi ia mengatakan bahwa mungkin karena saya tidak hanya menulis buku tetapi juga masalah sosial yang dihadapi dalam hidup saya. Dengan respek, saya kira tindakan saya telah berbeda dari penulis lain.
Dua tahun lalu, saya menerima International Nonino Prize di Italia, walaupun saya tidak pernah mendengar itu sampai saya telah dipilih. Saya percaya saya mendapat hadiah karena saya untuk melakukan kegiatan sosial serta untuk tulisan saya.
Salah seorang dari Dewan juri (VS Naipaul, pemenang Hadiah Nobel untuk Sastra tahun 2001). Saya mendengar bahwa ia membaca novel “The End of Summer” dalam bahasa Inggris. Dalam buku itu anda menuliskan hubungan segi-empat antara Anda dengan kekasih, Jinjiro Oda, istri dan ex-pacar. Apa yang membuat Anda menulis tentang pengalaman sulit, rumit itu ?
Saya tidak memiliki gagasan khusus, tetapi saya hanya menulis tentang masalah paling penting dalam pikiran saya untuk diselesaikan pada waktu itu. Itu selengkapnya “Aku” novel. Saya telah banyak menulis “Aku” novel.
Selain dari saya, tak seorangpun benar-benar jujur menulis tentang pengalaman mereka sendiri. Tidak ada yang menulis tentang hal paling memalukan bagi mereka atau sesuatu hal tidak mereka inginkan orang lain tahu. Dengan menulis “Aku” novel, saya dapat berpikir tentang apa yang telah dilakukan secara obyektif dari sudut pandang – sudut pandang saya yang tidak benar-benar telah selama kejadian tersebut.
Dengan menulis novel, saya dapat mewujudkan jika saya telah melakukan sesuatu hal yang bodoh atau apa yang harus saya lakukan. Meskipun manusia mencoba untuk hidup sepenuhnya pada setiap saat, hidup tidak selalu sempurna. Saya pikir, Itu semua baik-baik saja.
Untuk delapan tahun Anda berhubungan dengan Oda, dia menghabiskan waktu di tempat Anda dan juga di rumah keluarganya. Apa yang anda perolehi melalui hubungan Anda dengan dia?
Saya belajar tentang kesusasteraan dari dia, membedakan kesusateraan dengan yang lain. Dia mengekspresikan kesusateraan sebagai suatu spirit yang tinggi atau yang rendah. Jika saya belum bertemu dia, saya tidak memiliki kehidupan saya sebagai individu kesusasteraan seperti sekarang. Aku berhutang hidup saya kepadanya.
Walaupun hidup dengan Oda, Anda juga bertemu mantan pacar Anda. Orang seperti apa dia?
Dia adalah siswa dari suami saya suami yang telah mengajar di sekolah lanjutan di Prefektur Tokushima, sebelum kami dipindahkan ke Cina. Sekarang saya menyadari sebagai cinta yang tidak dewasa.
Saya tidak hidup bahagia dengan suami saya. Tetapi selama perang, dan saat berjuang untuk mengatasi situasi yang luar biasa, saya menyadari adanya perbedaan nyata kepribadian dan nilai antara dia dengan saya. Yang memberikan rasa sangat gelisah bagi saya – dan kemudian saya bertemu dengan pemuda.
Tapi saya kira tidak ada alasan mengapa orang jatuh cinta. Ini seperti kilat. Anda tidak tahu ketika dia datang dan Anda tidak dapat menghindarinya meskipun Anda mungkin akan terluka atau mati. Saya berpikir apa jatuh cinta seperti ini.
Harumi Setouchi (20 tahun) sebelum menjadi biarawati, tahun 1942. foto : Nagao Shobo
Apa yang membimbing kamu untuk memulai menulis novel?
Aku ingin menjadi seorang novelis. Tetapi ketika aku masuk universitas, aku menemukan bahwa banyak para siswa mempunyai bakat pada tingkatan yang sama denganku. Maka saya berpikir bahwa keinginan menjadi novelis adalah salah. Aku memutuskan untuk menikah. Aku menikah dengan pengaturan. Bekas suamiku sedang berusaha untuk menjadi sarjana, maka saya percaya akan bersifat sangat bagus untuk membantu dia sebagai ganti mengembangkan bakat ku sendiri.
Tetapi ketika aku tinggal di Beijing, Aku pergi ke suatu toko buku yang menjual buku-buku Jepang dan menemukan suatu novel berjudul ” Ningyoshi Tenguyahisakichi (Doll Craftsman Tenguyahisakichi)” oleh Chiyo Uno. Karakter utamanya seorang tukang ahli nama Tenguya, yang membuat boneka deko tradisional dan mendandani didalam area rumah Tokushima. Kata-Kata didalam novel ini, adalah keindahan dialek Tokushima, dan aku berpikir novel ini adalah suatu karya agung.
Ketika aku menyerap isi buku ini, aku berpikir lagi bahwa aku sudah perlu menjadi seorang novelis. Kemudian aku kembali ke Tokushima setelah peperangan, dan bersama para siswa bekas suamiku membentuk suatu kelompok kecil, dimana kita menulis roman di buku catatan dan dibacakan. Aku jatuh cinta kepada pemimpin dari kelompok ini.
Setelah jatuh cinta, tidakkah kamu meninggalkan putri dan suami mu dan pergi sendiri ke Kyoto?
Bekas suamiku bersifat kekanak-kanakan sungguhpun ia lebih tua sembilan tahun dari padaku. Semakin ia mencoba untuk berbuat baik kepada saya, semakin mencintai pemuda itu. Tetapi suamiku bukanlah untuk disalahkan. Cinta ku adalah kejutan untuk dia. Aku merasa kasihan pada dia.
Bagaimana dengan pengorbanan keluargamu dan pengaruhnya dalam penghidupanmu setelah itu?
Biasanya, aku tidak pernah menyesali apapun juga yang telah kuperbuat. Aku berpikir itu adalah OK, sebab aku melakukan yang terbaik untukku pada momen kehidupanku. Tetapi tentang anakku adalah penyesalan paling besar dan satu-satunya bagiku.
Sekarang aku kadang-kadang lihat cucu dan putri ku, aku telah menyakitinya. Dia belum pernah menyalahkan aku. Meskipun aku tidak takut pada orang, aku takut kepada putriku. Aku sudah menulis tentang perasaanku kepadanya.
Anda start menulis novel di Kyoto?
Disana aku bekerja pada suatu penerbit dan pada Universitas Kyoto hospital. Kemudian aku memulai menulis novel untuk anak perempuan. Aku mengirim kepada suatu penerbit dan mereka semua menerbitkan, maka saya pikir ini adalah suatu bisnis baik untukku dan memutuskan untuk berhenti meninggalkan pekerjaan dan pergi ke Tokyo.
Aku mencari uang dengan menulis novel untuk anak perempuan, tetapi tidaklah mencukupi sehingga ingin menulis novel untuk orang dewasa. Maka saya bergabung suatu kelompok sastera yang bernama Bungakusha (literary man) yang dipimpin oleh Fumio Niwa. Didalam kelompok kecil ini, aku berjumpa Jinjiro Oda. Setelah itu aku menulis suatu roman bergelar ” Joshidaisei Chu Sakit (Woman University Student Chu Ailing),” yang mendapat penghargaan dari Shinchosha Publishing Co.
Setelah itu, aku menulis suatu roman bergelar ” Kashin (Flower’s Core),” tetapi banyak orang salah mengerti tentang novel ini dan mengkritiknya dan dan berkata, ” Kamu memuja dunia sastera yang berkaitan dengan eroticism.” Aku menjadi sangat dikejutkan.
Aku membaca novel ini, tetapi aku tidak berpikir novel ini terlalu erotis.
Benar, Aku menguraikan seks dengan cara yang lebih elegan dibanding para penulis muda sekarang ini. Aku menuliskan novel yang lebih mementingkan semangat daripada tubuh – tetapi kebanyakan orang lebih mencurahkan perhatian mereka kepada uraian tubuh dan mengkritik itu.
Aku perlu bertahan dengan ketenangan, tetapi aku menjadi sangat terganggu untuk menjawab kritik itu, dan mengatakan, “Mereka yang mengkritik novel harus impoten dan isteri mereka harus frigid.” (tertawa). Oleh karena komentar itu, semua surat kabar yang berkaitan dengan kesusasteraan menolak untuk menerbitkan novelku untuk lima tahun. Tetapi kemunduran membantu aku untuk tumbuh dan aku disini sekarang.
Mengapa kamu memutuskan untuk menulis novel biografis tentang wanita-wanita penuh nafsu didalam Jepang modern, termasuk “Dua Ha Rancho ni Ari (Beauty in Disarray)” pada Noe Ito (1895-1923), siapa dilibatkan pada awal pergerakan feminisme?
Sebelum novel itu, aku menulis tentang Toshiko Tamura (1884-1945), siapa novelis wanita yang pertama untuk membuatnya hidup dari penulisan. Sebelum Tamura, Ichiyo Higuchi (1872-96) juga penulis novel pada era Meiji, tetapi pekerjaannya tidaklah dikenali karena hidupnya yang singkat.
Tamura adalah seorang perempuan yang sangat menarik. Dia menjadi seorang novelis populer, berpendapatan banyak uang, suatu kehidupan mewah, tetapi mempunyai masalah dengan seorang manusia dinikahi. Keduanya pergi ke Canada dan tinggal disana selama 18 tahun. Setelah kembali ke Jepang, Tamura mencoba untuk menulis novel lagi, tetapi dia tidak bisa. Kemudian dia mengunjungi Beijing secepatnya tinggal sana, tetapi dia meninggal di Shanghai…….
Ada banyak kesalah pahaman dan legenda melingkupi hidupnya. Persis, seperti aku telah disalah pahami oleh orang-orang, dicurigai sekitar sekitar kehidupannya. Aku didukung oleh umpan balik yang baik, dan aku tetap tulis roman tentang perempuan.
Saat Tamura hidup, suatu kelompok wanita-wanita yang dipimpin oleh feminis Raicho Hiratsuka (1886-1971) yang menerbitakan majalah berjudul Seito (Bluestocking) yang mencerminkan kebangkitan identitas wanita Jepang modern. Ketika meneliti Seito, aku bertemu secara kebetulan dengan Kanoko Okamoto (1889-1939), tampaknya menarik dan aku terlibat dalam penerbitan majalah — maka saya menulis suatu novel dengan judul “Kanoko Ryoran (Profusely Blooming Kanoko).”
Hidup dari perempuan itu sama seperti dirimu, Tidakkah terpikir olehmu?
Hidup mereka lebih penuh kasih dibanding aku.
Didalam esei mu ” Basho (Place),” yang memenangkan Noma Prize for Literature pada tahun 2001, kamu menulis, ” Aku mulai mempunyai kesadaran tentang langkah hidupku, berawal ketika berusia 40-an, nampaknya terarah kepada suatu pemujaan untuk kematian.” Kamu juga menulis, ” Menjadi suatu perjalanan pengembaraan dan biarawati adalah cita-cita yang paling dalam bagiku dan menggoda jiwaku tiap hari dan malam.” Kenapa kamu berpikir kamu mempunyai perasaan kuat seperti itu ?
Aku tidak mengetahui. Aku sedang mencita-citakan dalam perjalanan mengembara.
Mengapa kamu ” memuja” kematian dan menjadi biarawati?
[Itu] membendung dari gagasan untuk perjalanan pengembaraan. Di Jepang, orang-orang yang menjadi biarawati atau biarawan yang menggunakan waktunya untuk pergi mengembara dan berkotbah ajaran Buddha. Para imam Budha yang terkenal sebagai penyair adalah Saigyo (1118-90), pendiri sekte Ji sekte Buddhism, Ippen (1239-89) dan penyair Ryokan (1758-1831) melakukan/did bahwa. Mereka juga menciptakan literatur sempurna ketika sedang mengembara berkeliling. Aku sangat menghormati mereka.
Kamu menulis di dalam esei itu yang menjadi suatu biarawati adalah ” untuk mati selagi hidup.” Apakah benar-benar seperti itu?
Benar, Aku masih memikirkan itu. Meskipun demikian, aku ingin merubah hidupku – cara lain, aku ingin mengakhiri sebagai novelis populer. Aku ingin membuat literatur yang lebih dalam dan lebih tinggi, tetapi aku pikir aku tidak bisa lakukan itu.
Aku ingin mempunyai suatu kerangka yang lebih kuat kepada literatur ku, dan aku pikir aku perlu menyerah jalan hidupku dan start lagi. Dan aku menyadari ada suatu metoda untuk membuatnya sangat dalam di Jepang — adalah menjadi biarawati.
Apakah menyerah jalan hidup tua mu meliputi menyerah hubungan mu dengan manusia?
Ya, tentu saja. Pada akhirnya aku datang menemukan mereka dan menyusahkan.
Dapatkah kamu menjelaskan apa yang kamu maksud dengan kerangka literaturmu?
Aku pikir kerangka penulisan ku lemah, maka saya ingin membuatnya lebih kuat. Aku pikir untuk mempraktekkan Budha Asceticism, aku akan mampu memperkuat kerangka itu.
Sebelum menjadi biarawati, apakah benar kamu berkonsultasi dengan almarhum novelis Shusaku Endo, yang dikenal dengan paham Katoliknya?
Untukku, apapun akan baik jika itu dikerjakan. Sebab aku dekat dengan dia, berkonsultasi dengannya, apakah aku bisa dibaptis sebagai penganut Katholik. Ia berkata itu adalah suatu gagasan agung dan ia memperkenalkan aku kepada seorang imam dan aku belajar Alkitab. Tetapi secara berangsur-angsur, ketika aku mempelajari lebih banyak tentang Kekristenan, aku sampai kepada pemikiran bahwa Buddhism lebih cocok untukku sebab aku adalah Jepang.
Aku melaporkan dengan jujur kepada Endo dan imam, dan mereka berkata, ” Itu adalah yang terbaik, kamu perlu melakukan”. Mereka tidaklah marah sama sekali. Ketika aku menjadi biarawati, mereka berdua sangat gembira sepenuh hati.
Setelah menjadi suatu biarawati, kamu melanjut penulisan dan juga mengambil beberapa tindakan terkemuka, seperti melangsungkan mogok makan sebagai protes terhadap Perang Teluk 1991 dan mengumpulkan barang-barang dan ¥ 13 juta dari para pendukung untuk bantuan ke Irak. Kamu juga membuat iklan protes disurat kabar yang mencela invasi U.S ke Iraq 2003. Mengapa kamu yakin – itu tidaklah biasa dilakukan para novelis lakukan ?
Aku berpikir, aku dipengaruhi oleh pemikiran Noe Ito (penganut paham anarkhi dan feminis) , dan oleh seorang feminis-sosialis Sugako Kannno (1881-1911), yang aku tuliskan dalam novel beberapa tahun yang lalu. Para novelis mestinya tidak hanya menulis, tetapi mereka perlu mulai bertindak, juga— seperti existentialist Perancis, ahli filsafat dan penulis Jean-Paul Sartre (1905-80).
Ada juga sarjana yang menutup diri mereka diatas menara gading dan berkonsentrasi pada studi mereka, dan mereka benar juga, tetapi aku merasakan gelisah dan bergairah terhadap permasalahan sosial yang tidak kufahami. Aku tidak bisa tenang dengan itu.
Siaran yang diterbitkan ketika Perang Teluk adalah bersumber dari kekuatan perusahaan multinasional. Maka saya tidak bisa mengetahui apa sebenarnya kejadian disana. Aku merasa seperti selama Perang dunia II, semua kabar yang kita terima melewati otoritas militer. Berita yang selalu kita terima hanya “Kita sedang memenangkan.” Ini adalah sebuah pengalaman.
Itulah alasan kenapa aku tidak bisa percaya kewartawanan semasa Perang Teluk Perang. Aku ingin mengetahui kebenaran, dan untuk itu aku harus lebih dulu pergi ke sana.
Situasi apa yang kamu temukan di Irak ?
Aku mendapatkan kabar yang salah… Semua wartawan dari di seluruh bumi terkurung disebuah hotel. Supaya mereka tidak mati. Tetapi kita adalah sukarelawan, maka kita diijinkan untuk tinggal bertahan pada sebuah rumah sakit yang mempunyai beberapa ruang lowong. Orang-Orang disna sangat ramah tamah terhadap kami.
Aku juga percaya kamu sudah berhubungan dengan penjahat yang akan hukuman mati. Di tahun terakhir, semakin banyaknya pelaksanaannya di Jepang. Bagaimana anda merasakan tentang itu ?
Aku menentang hukuman mati. Sebagai Budha Biarawati, aku percaya tak seorangpun perlu membunuh yang lain untuk alasan apapun. Salah satu pengajaran Buddha’s ‘tidak boleh membunuh’ — dan tidak membiarkan seseorang menjadi mangsa. Maka, kamu tidak boleh membunuh, dan jika kamu melihat seseorang berusaha untuk membunuh seseorang, kamu harus menghentikan orang itu. Ini adalah suatu ajaran dasar Buddhism. Dengan kata laim, kamu mestinya tidak menyakiti orang lain, Itu sangat sederhana. Aku percaya, sebagai biarawati atau biarawan Buddhists perlu menentang peperangan dan juga hukuman mati.
Tetapi ketika aku mengatakan dan sebagaian orang selalu mempertanyakan “Bagaimana tentang rasa sakit pada keluarga-keluarga korban?” Tentu saja aku merasa sangat menyesal untuk mereka. Aku tidak mempunyai kata-kata untuk menghibur orang-orang seperti itu. Hanyalah di antara keluarga-keluarga korban, ada orang-orang yang menginginkan agar penjahat untuk dibunuh. Aku jumpa dengan orang tua Jepang yang anaknya menjadi korban 9/11. Mereka berkata, putra mereka sedang dalam perjalanan bisnis dalam suatu pertemuan WTO. Ia adalah salah seorang korban yang hilang pada saat kejadian itu. Orang tua itu sedang menangis, dan aku berkata kepadanya : ”Aku berduka untuk dia. Aku ingin untuk dapat membalas dendam, tetapi…” Kemudian sibapak tersentak, yang tadi bahunya melorot, tiba-tiba meluruskan punggungnya dan berkata : ”Aku tidak ingin siapapun untuk mengulangi tindakan bodoh seperti itu. Aku tidak ingin pembunuhan tidak berarti apapun lagi.
Apa pendapat anda tentang tentang hukuman mati yang akan dihapuskan di Jepang dan digantikan dengan hukuman penjara seumur hidup?
Saya setuju dengan itu, Aku berpikir kita perlu menghentikan kejahatan dan Aku percaya penjahat perlu merasakan sakitnya ketika dipenjarakan selamanya. Manusia dapat berubah. Kita mestinya tidak membunuh, sebab masih ada yang harus dirobah.
Yang sedang dibunuh hanya merasakan sakit sebentar, tetapi yang sedang dipenjarakan dalam jangka panjang adalah penderitaan besar. Hidup adalah milik semua orang. Manusia harusnya tidak saling membunuh.
Meskipun sudah berusia 86 tahun, kamu masih sangat aktip di dalam menulis dan memberi kuliah. Apa yang menjadi sumber energimu ?
Orang-Orang sering menanyakan, tetapi aku tidak pernah memberi jawaban. Aku selalau dikemudikan oleh pekerjaanku dan masih mengatur pekerjaan itu. Aku tidak pernah berbuat apapun untuk memelihara kesehatanku. Malahan, aku selalu bekerja lewat batas waktu dan untuk tidur sangat kecil, selama 365 hari per tahun tanpa liburan.
Jika kamu adalah dilahirkan kembali, sesuai dengan ajaran transmigration of souls dalam Buddhism, kehidupan seperti apa yang inginkan ?
Jika mungkin, aku ingin sebagai seorang novelis wanita. Aku tidak berpikir ada yang lebih lebih menarik dibanding mencerminkan hidupku.
Apa hal yang paling menarik didalam hidupmu ?
Aku tidak bisa mengidentifikasi satu peristiwa tunggal, hanyalah akumulasi dari berbagai hal. Aku menikmati momentum kehidupanku, dan sekarang aku merasakan sudah mencapai suatu kesimpulan dengan apa yang telah kuperbuat. Mereka yang menyerang aku dulunya telah menyampaikan kepada saya sekarang. Aku merasakan sedikit yang baik ( tersenyum).
sumber dan informasi lebih lanjut : japantimes
Believe in yourself
Sebuah video clips yang sangat menarik, layaklah untuk disimak.
Percayalah pada dirimu sendiri, Jangan remehkan talenta bakatmu. Ayo,….. tunjukkan itu.
Layakkah ke surga
Kedua video-clips dibawah ini menjadi bahan renungan bagi saya pribadi,
Apakah kamu layak masuk surga ?
Pelayanan seseorang dalam semasa kehidupannya
Uang dan Kebahagiaan
Uang tidak membuat bahagia. Tapi penelitian secara ilmiah, juga menunjukkan kaitan lain yang amat rumit antara uang dan kebahagiaan ini.

Dengan uang bertumpuk bukan berarti kebahagiaan sudah tercapai.
Uang tidak membuat bahagia. Demikian pepatah Jerman. Juga para peneliti kebahagiaan memiliki pendapat yang serupa. Berbagai peribahasa atau cerita mitos, cenderung menunjukan pembenaran tesis ini. Misalnya kisah tentang Raja Midas, yang memohon agar semua yang disentuhnya menjadi emas, akhirnya mati kelaparan karena makanan dan minuman yang disentuhnya juga menjadi emas. Tamsil ini menguatkan pepatah bahwa uang tidak membuat bahagia.
Jika uang tidak membuat bahagia, atau hanya memiliki peranan sampingan dalam kebahagiaan, mengapa banyak orang mengharapkan menang hadiah utama lotre? Mengapa orang berlomba-lomba mengumpulkan uang sebanyak mungkin, tidak peduli dengan cara apapun? Apakah menang lotre jutaan Dolar membuat orang bahagia? Hal ini tentu saja harus ditanyakan kepada pemenang lotre tsb.
Paul Rosenau misalnya, sebelumnya adalah pekerja biasa dari negara bagian AS Minnesota sebelum ia menjadi multi jutawan karena menang lotre. Seperti biasanya, setiap hari Jumat setelah gajian mingguan, Paul mengisi bensin untuk mobil bututnya di pompa bensin di desa tetangga, maklum harganya lebih murah 15 sen Dolar per gallonnya. Kebiasaan rutin lainnya, setiap hari Jumat ia membeli selembar kupon undian lotre Quick-Tipp. Bulan Mei lalu hadiah utamanya berupa jackpot sebesar 180 juta Dolar. Malam hari, Paul Rosenau mencocokan nomor undian yang dibelinya dengan pengumuman lotre yang ditayangkan di televisi. Semua nomor cocok, dan ia berteriak kepada istrinya, kita menang jackpot.
Setelah tahu ia menang lotre dengan hadiah yang mencapai rekor terbesar, Paul Rosenau mengatakan : “Apakah kami bahagia? Dalam semua hal ya! Mula-mula kami samasekali tidak tahu apa yang harus dilakukan. Kami langsung menelfon konsultan keuangan. Setelah itu semuanya berjalan lancar.“

Memberi dan menerima syarat penggunaan uang untuk bahagia?
Resep suami istri Rosenau untuk menghadapi kekayaan yang datangnya tiba-tiba, adalah tetap berkepala dingin. Sebagian besar uang hadiah lotre, ditanamkan dalam sebuah yayasan untuk amal. Keluarga Rosenau tidak mengubah gaya hidupnya secara tiba-tiba. Bagi mereka teman-teman dan keluarga merupakan sumber kebahagiaan yang lebih besar, ketimbang uang berjuta-juta Dolar.
Di mata para peneliti kebahagiaan, tindakan dan prioritas yang dilakukan keluarga Rosenau dinilai amat tepat. Hubungan sosial yang berfungsi baik, merupakan faktor terpenting bagi kebahagiaan. Lebih banyak atau lebih sedikit uang yang dimiliki, tidak banyak berpengaruh. Namun hasil penelitian itu tidak berlaku bagi orang-orang miskin. Demikian kata Bruno Frey peneliti kebahagiaan dan ekonomi dari Universitas Zürich di Swiss.
Frey menjelaskan anomalinya : “Pada orang-orang dengan pendapatan rendah, kenaikan gaji dianggap penting dan dapat meningkatkan tingkat kepuasan pada kehidupan. Hal yang sama berlaku untuk negara-negara miskin. Jika pendapatan rata-rata naik, maka tingkat kepuasan hidup juga naik drastis. Penelitian kebahagiaan yang kami lakukan, tidak menyimpulkan bahwa orang-orang di negara berkembang lebih bahagia dan puas, dan kami tidak perlu lagi melakukan apapun. Hal sebaliknya yang justru tepat.“
Tapi, segera setelah semua kebutuhan mendasar terpenuhi, uang tidak lagi memainkan peranan menentukan bagi perasaan bahagia. Walaupun begitu, orang-orang ibaratnya selalu berburu uang dengan menghalalkan segala cara. Ibaratnya minum air laut, semakin haus jadinya – begitu pula dengan uang, semakin banyak uang yang dimiliki, semakin terasa kurang.
Penyebabnya, diduga merupakan hasil evolusi manusia selama jutaan tahun terakhir ini. Demikian diungkapkan pakar psikologi dan peneliti kebahagiaan dari Universitas Harvard, Tal Ben-Shahar : “Ini kesalahpahaman yang merupakan sifat turunan. Latar belakangnya diduga pengalaman selama ribuan tahun. Kita harus menimbun makanan agar dapat bertahan hidup. Barangsiapa paling banyak menimbun, memiliki peluang cukup baik, untuk dapat bertahan hidup di musim dingin. Dewasa ini orang-orang masih mengikuti pola semacam itu. Walaupun banyak yang tidak perlu lagi menimbun simpanan. Tapi semua orang masih berpikir, kalau saya memiliki lebih banyak lagi, maka hal itu amat penting bagi kelangsungan hidup dan kebahagiaan saya.“
Jadi sulit untuk menetapkan dengan tegas apakah uang membuat orang bahagia, karena parameternya banyak dan kaitan saling pengaruhnya amat rumit. Kebiasaan, budaya dan tata nilai kemasyarakatan juga amat menentukan nilai kebahagiaan dikaitkan dengan faktor uang.

Uang seperti air laut, maik banyak diminum makin haus.
Menimbang rumitnya kaitan sebab akibat antara uang dan kebahagiaan, pakar psikologi dari Universitas Vancouver di Kanada, Lara Ankin mencoba melakukan analisis dengan pendekatan berbasis dua paham pemikiran. Ankin menghubungkan dua parameter umum. Pertama aksioma, uang saja tidak membuat bahagia. Dan kedua aksioma bahwa manusia mengharapkan hubungan sosial yang baik. Ankin berspekulasi, mungkin saja uang dapat membuat manusia bahagia, jika mereka menggunakannya secara sosial. Lara Ankin melakukan penelitian dan sekaligus ujicoba menyangkut kaitan uang dan rasa bahagia ini :
Lara Ankin menjelaskan : “Kami mewawancari 16 pegawai sebuah perusahaan di Boston, yang baru saja menerima bonus. Kami mengukur tingkat kebahagiaan mereka sebelum menerima bonus dan 8 minggu sesudahnya, setelah mereka membelanjakan uangnya. Hasilnya, mereka yang membelanjakan uangnya untuk orang lain, jauh lebih bahagia ketimbang mereka yang membelanjakan uangnya hanya untuk diri sendiri. Hasil serupa juga ditunjukan dalam penelitian di kampus. Kami memberi mahasiswa uang sebesar lima atau 20 Dolar. Malamnya kami telefon mereka. Hasilnya, para mahasiswa yang menggunakan uangnya untuk diri sendiri, tidak peduli yang diberi lima ataupun 20 Dolar, merasa kurang bahagia dibanding mahasiswa yang juga membagi uangnya dengan orang lain.“
Artinya, uang juga dapat membuat manusia bahagia. Dengan syarat, kita mengendalikan pembelanjaannya agar memiliki fungsi sosial. Mengapa begitu, psikolog Lara Ankin menjelaskan lebih lanjut : “Mungkin hal ini berkaitan dengan perasaan percaya diri dari pemberi. Atau dengan itu mereka berbagi waktu dengan yang lainnya, atau juga dengan begitu hubungan yang sudah terjalin diperkuat. Diduga hal itu menimbulkan perasaan aman, yang pada gilirannya membuat bahagia. Saya yakin, fenomena ini tidak dapat diterangkan hanya dari satu penyebab saja. Disini banyak hal memainkan peranan.“
Jadi, pepatah uang tidak membuat bahagia, harus sedikit dikoreksi. Uang dapat membuat bahagia, dalam persyaratan tertentu. Yakni, jika digunakan untuk meningkatkan hubungan sosial yang meningkatkan rasa percaya diri. Namun kaitan antara berbagai faktornya amat rumit, sehingga pengukurannya secara empiris juga lebih sulit.
sumber : dw-world.de
Pesan NAPCAN : children see, children do
Clips video ini sudah lama diterbitkan dan merupakan bagian dari kampanye dari Australia’s National Association for the Prevention of Child Abuse and Neglect NAPCAN, ditahun 2006, tetapi rasanya masih up to date untuk dilihat dan difahami maksudnya.

Dalam masa 90 detik diperlihatkan spot : tentang kelakuan anak-anak yang meniru kebiasaan orang dewasa. Pada mulanya peniruan ini tampaknya seakan-akan tidak berakibat buruk, misalnya ; berbicara terus menerus dibox telepon publik, antrian di stasiun kereta api. Perilaku yang lebih buruk lagi adalah mencontoh kebiasaan merokok, membuang sampah sembarangan, mabuk-mabukan, pertengkaran keluarga yang disaksikan oleh sianak.
Ingat : “Children See. Children Do”. “Please make your influence positive”.
sumber : duncans
Christian comtemporary musik, bagaimana sikap HKBP?
Suatu artikel terbaca oleh saya dan menjadi renungan bagi saya dan menjadi pergumulan pemikiran bagi saya, antara lain demikian :
Ketika saya masih kecil, saya sulit menghabiskan vitamin-vitamin saya meskipun Ibu saya berusaha dengan segala macam untuk membuat saya memakan semua vitamin-vitamin itu.
Apakah Anda pernah mencoba mengunyah sebutir pil vitamin pahit?
Pada suatu saat ibu saya memasukkan pil itu dalam pisang ataupun dilapisi pil-pil tersebut dengan sedikit manisan yang putih dan empuk. Hal itu hanya menolong saya untuk sementara waktu.
Kemudian muncul idenya dengan meremukkan pil vitamin tersebut menjadi serbuk halus dan mencampurkannya dengan selai arbei, pada hari itu saya memakan selai arbei dan tetap merasakan sedikit rasa pahit dari pil-pil vitamin itu. Lebih lanjut dia hanya melapisi pil tersebut dengan selai dan menyuruh saya menelan. Setelah saya besar dan memahami kegunaan dari pil tersebut, saya tidak memerlukan selai arbei lagi.
Allah juga mempunyai vitamin-vitamin bagi kita untuk dihabiskan. Ia menghendaki kita memakan vitamin-vitamin rohani seperti disiplin, ketulusan hati, tanggung jawab, dan ketaatan untuk menolong kita bertumbuh makin kuat dan mengalami suatu kehidupan yang dipenuhi dengan kebahagiaan. Setiap orang perlu untuk memakan vitamin-vitamin mereka, namun kebanyakan dari kita tidak dapat menelan vitamin-vitamin itu dengan mudah.
Puji-pujian dalam bentuk kidung yang diiringi dengan alunan nada organ yang monoton, membangkitkan rasa hambar untuk mendengarkan, Apakah tidak bisa dikemas secara kontemporary atau populer. Apakah belum diperlukan apa yang disebut ’sebagai selai’ seperti diatas.
Katanya, pihak petinggi HKBP tidak bersikap apriori terhadap musik kontemporary. Mungkin,….. yang menjadi penghambat di gereja tempat saya berkebaktian adalah sikap puritan atau ortodoks kaum tua digereja inilah yang menjadi hambatan untuk sedikit mereform ini. (seorang jemat HKBP di Pematangsiantar)
Cara berhadapan,……keatas.
Kisah Mozes menggembalakan kambing domba di gunung Horeb (kotbah dan renungan hari ini) dan berhadapan dengan Allah, yang tertulis pada Keluaran pasal 3;5 demikian bunyinya : “Lalu Ia berfirman: Janganlah datang dekat-dekat, tanggalkanlah kasutmu dari kakimu, sebab tempat, di mana engkau berdiri itu, adalah tanah yang kudus.”
Tanpa menggunakan alas kaki apalagi dalam perjalan jauh sudah dapat dipastikan telapak kaki saya akan melepuh, dan sudah menjadi budaya (cipta, karya dan karsa) bagi saya. Namun demikianlah tertulis dalam ayat tersebut, pada saat berhadapan dengan ‘Pemilik kuasa abadi’ walaupun “janganlah datang dekat-dekat” kita harus melepaskan budaya kita. Alas kaki yang menjadi bagian dari fondasi untuk berdiripun harus dilepaskan.
Sungguh bertolak belakang suasananya bila kita akan berhadapan dengan ‘pemilik kuasa sementara’ dikota kita ini, kita akan berhadapan dengan berbagai peraturan protokoler. Alas kaki sebaiknya dipakai, apakah itu berbentuk panser, kapal, megaphone, power dan sebagainya, kalau tidak yah,…..amit-amit sajalah.
Yah, namanya pun dunia.
Kendalikan emosimu dan tariklah napas dalam-dalam, pesan Vinod
PERNAHKAH kita menyadari diri saat marah, sedih, cemas, gelisah, kecewa, dan saat segala macam perasaan tidak menyenangkan muncul? Kalau pernah, bagaimanakah napas kita saat itu? Tentu, napas kita pendek-pendek dan bahkan bisa tersengal-sengal. Dan ternyata gejalanya bisa jadi tidak hanya sampai di situ saja. Kita mungkin pernah berkeringat dingin saat merasa takut, sakit perut saat demam panggung, diare saat mau ujian, jantung berdetak cepat saat marah, takut dan sebagainya. Keadaan semacam dalam bahasa psikologi disebut psikosomatis.
Seorang profesor yang juga spesialis kanker dari Institute Rotary Cancer Hospital, New Delhi, India, Vinod Kochupillai menyebutkan, gejala-gejala ini menandakan bahwa pikiran, kondisi emosi seseorang mempengaruhi badan. “Pikiran dan tubuh itu menyatu,” ujar professor yang telah menghasilkan 150 tulisan ilmiah di jurnal nasional dan internasional.
Vinod melanjutkan, ketika kita mulai sadar bahwa kita sedang marah atau mengalami emosi yang tidak menyenangkan, ada baiknya langsung menenangkan diri. Caranya, dengan menarik napas dalam terus menerus. (lihat : Art of correct breathing & healthy life)
Dalam meditasi, yoga dan berbagai aliran senam pernapasan diajarkan bagaimana bernapas dalam. Selama berabad-abad, banyak orang suci dan para rishi menyarankan latihan yoga, meditasi, pranayam untuk mencegah atau memperbaiki reaksi kita terhadap stres.
Bernapas itu makanan penting untuk semua makhluk. Secara fisik, manusia bisa hidup tanpa makanan dan minum dalam waktu agak lama, misalnya tiga hari bahkan empat minggu. Namun, bila tanpa oksigen, sehari saja kita bisa mati.
Oksigen (O2) yang kita hirup digunakan untuk membakar makanan yang masuk dalam tubuh supaya menghasilkan energi. Sisa pembakaran berupa karbondioksida (CO2) dikeluarkan lewat paru-paru. Tanpa oksigen, sel-sel tubuh tidak akan berfungsi. Semakin lama tanpa oksigen, semakin rusak sel-sel tubuh. Artinya, tinggal kematian saja.
Pengambilan O2 dan pengeluaran CO2 berlangsung karena adanya otot-otot diafragma (sekat rongga badan), otot-otot rongga dada dan perut yang memungkinkan paru-paru mengembang (menghisap udara) dan mengempis (mengeluarkan udara).
Ketika kita bernapas, udara masuk lewat hidung, tenggorokan, kemudian ke paru-paru. Setelah mencapai alveoli (kantong udara pada paru-paru) oksigen berdifusi atau menyebar melalui membran alveoli kapiler yang sangat tipis yang terdiri dari jaringan membran alveoli dan dinding kapiler pembuluh darah.
Dalam keadaan normal, semua oksigen akan diikat oleh hemoglobin sel darah merah selanjutnya disebarkan ke sel-sel di seluruh tubuh. Sementara itu, sisa hasil pembakaran dari sel yang berupa gas CO2 akan dibawa sel darah merah lewat membran alveoli kapiler ke alveoli. Selanjutnya dikeluarkan ke udara bebas.
Semakin banyak oksigen yang kita hirup secara teratur setiap hari, sel-sel tubuh akan mengalami regenerasi. Sel-sel tidak menjadi lapar akan oksigen dan selalu muda. Menurut Prof. Vinod, bernapas dalam, memungkinkan pasokan oksigen ke otak, sistem saraf dan seluruh tubuh tercukupi. “Akibatnya kita menjadi tenang, bahagia, dan merasakan nikmat yang luar biasa. Keadaan ini muncul akibat otak menyemprotkan saripati kenikmatan dalam tubuh karena kedua belah otak berada dalam keseimbangan. Kesenangan emosional ini akan meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Tubuh menjadi sehat. Sel-sel yang rusak misalnya akibat kanker bisa diperbaiki.,” ujar Kepala Departmen of Medical Oncology All Indian Institute of Medical Sciences, New Delhi ini.
Sebaliknya, ketegangan emosional semisal stres yang berkepanjangan mengakibatkan terjadinya kontraksi otot dada, bahu, punggung, leher, muka, dan diafragma. Akibatnya gerakan otot diafragma menjadi terganggu. Napas pendek dan cepat, bahkan sistem kardiovaskular (pembuluh darah dan jantung) kita juga terganggu. Efeknya, pasokan oksigen ke seluruh tubuh menipis.
Ini artinya irama pernapasan merupakan salah satu petunjuk fisik paling jelas atas keadaan emosional dan mental seseorang. Penurunan oksigen menimbulkan respon “lawan” dari sistem saraf dan ini akan menciptakan sensasi fisik dan rangsangan saraf yang mengganggu aktivitas otak. Ketidakseimbangan otak akan terwujud berbentuk misalnya konsentrasi buruk, panik, gelisah, cemas, tegang.
Dalam keadaan demikian, otak yang diwakili sistem limbic berupa kelenjar pituitary, amygdala, dan hippocampus akan mengeluarkan hormon stres (kortisol, kortikosteroid, katekolamin). Padahal hormon-hormon ini menyebabkan tekanan terhadap sistem kekebalan dan bahkan kekacauan metabolisme tubuh.
Dalam kasus esktrim, keadaan tersebut bisa menyebabkan orang menjadi kecanduan terhadap tembakau, alcohol, juga narkotika karena bahan-bahan di dalamnya mengandung zat penenang.
Bila serangan stres terjadi berulang dan menjadi kronis, dapat menyebabkan perubahan fisiologis yang permanen. Munculah penyakit seperti darah tinggi, diabetes, jantung koroner, asma, gastrointestinal (saluran pencernaan), infeksi, migrain, sakit kepala, dan lain-lain.”Ini karena depresi menekan produksi limposit dan menurunkan fungsi kekebalan,” jelas Vinod.
HDL Meningkat
Maka, Prof. Vinod kemudian menekankan agar kita berhati-hati terhadap emosi negatif yang muncul di dalam diri kita. Menurutnya, kecemasan, sikap bermusuhan, sikap menyerang, perasaan kesepian, amarah akan mempengaruhi kesehatan kita.
Banyak orang di dunia sekarang ini menderita penyakit dan kekacauan mental. Ini akibat kehabisan napas karena pernapasan yang tidak benar, kurang berolahraga, gizi yang buruk, polusi diri (tembakau, obat-obatan, pengawet) dan polusi lingkungan. Sel-sel tubuh akan lapar dengan oksigen sebagai bahan bakar utama.
Berbagai penelitian mengindikasikan bahwa penyakit seperti kanker, jantung, paru-paru dan AIDS dapat diperbaiki melalui pemberian oksigen yang sesuai kepada sel-sel. “Yah, paling tidak kualitas hidup penderita diperbaiki dan hidupnya diperlama,” ujar Prof. Vinod.
Dalam sebuah penelitian di beberapa institusi semisal di All Indian Institute of Medical Sciences, India, Prof. Vinod mencobakan sebuah teknik pernapasan yang dikembangkan oleh tokoh spritual India, Sri Sri Ravi Shankar bernama Sudharsan Kriya dan Pranayam (Sk-P).
Dari 21 individu sehat berusia 35-50 tahun yang melakukan metode SK-P selama 70 menit ditemukan penurunan kadar cortisol darah (hormon stress). Sebelum melakukan teknik SKP ditemukan kadar kortisol darah pada para individu itu antara 169-375. Setelah latihan, kadar kortisol menjadi 83- 223.
Penelitian lain berlangsung dengan mengikutsertakan 10 orang polisi yang sedang menjalani penggojlokan. Selama sebulan pelatihan, stress tinggi ditunjukan dengan kadar laktat darah para polisi mencapai angka sekitar 0,64 mmoles/L. Ini karena mereka tidak menggunakan teknik SK-P. Setelah sebulan kemudian melakukan SK-P, kadar laktat darah para polisi menurun menjadi 0,55 mmoles/L.
Dalam penelitian lain lagi yang dilakukan di Bangalore Medical College, Vinod sekali lagi membuktikan keampuhan bernapas model ini. Selama tujuh hari, seseorang diminta melakukan teknik SK-P. Akibatnya, terjadi penurunan kolesterol serum totalnya. Dari mulai 118,32 mg% menjadi 91,75mg%. Sementara kolesterol HDLnya meningkat dari 43,17 mg5 menjadi 46,55 mg%. Kemudian latihan ditingkatkan menjadi 45 hari. Hasilnya, koletesrol total menurun lagi menjadi 74,72 mg% dan HDL meningkat menjadi 51,51 mg%.
Otak Berjalan
Sebenarnya, sudah sejak lama, berbagai penelitian ilmiah menegaskan bahwa antara tubuh dan pikiran saling berkaitan. Sehingga muncul ilmu yang disebut Psychoneuroimmunology (Psycho artinya mental, neuro artinya system saraf, dan immunology artinya system kekebalan tubuh) atau Mind-Body Medicine.
Dr. Candace Pert, mantan Ketua Bidang Kimia Otak pada Institut Nasional Kesehatan Jiwa, Universitas California, Amerika Serikat, menyebutkan, sel-sel saraf dalam otak kita bekerja karena rangsangan peristiwa fisik atau psikologis. Misalnya, ketika kita mendapat serangan beruang atau menerima kritik tajam, neuropeptide yang berada dalam sel-sel tubuh segera menyampaikan laporan melalui reseptornya di sumsum lanjutan (medulla oblongata) ke otak.
Dengan kelenjar pineal sensitif yang dipunyainya, otak dengan segera memerintahkan penyemprotan hormon tertentu supaya tubuh aman, misalnya endorfin disemprot supaya rasa sakit bisa ditahan. Begitu seterusnya
Contoh lain, saat seseorang mendapat kabar gembira atau sedang dalam keadaan bernapas dalam, sebuah sel saraf menyemprotkan opiate peptides atau saripati kenikmatan. Efek yang dialami dalam sel saraf di seluruh system secara bersamaan adalah rasa nikmat.
“Jadi dalam tubuh kita sendiri sebenarnya sudah terdapat pabrik obat yang mampu memproduksi obat-oatan yang mengatur suasana hati dan jenis obat psikoaktif,” ujar Candace.
Candace menyatakan, para ahli biokimia telah menemukan hampir 100 penyampai pesan biokimia ini membentuk sebuah jaringan informasi dalam tubuh atau pikiran dengan menghubungkan pikiran, emosi, dan sistem kekebalan.
Otak, kelenjar dan system kekebalan tubuh dihubungkan oleh jaringan informasi neuropeptide dan reseptor yang luar biasa. “Dalam hal ini, kita bisa menyebut neuropeptide dan reseptor itu sebagai otak yang dapat berjalan,” ujar Prof. Vinod menegaskan.
Karena itu, membuat otak selalu seimbang adalah hal penting buat kita. Menjaga agar otak selalu terasup oksigen secara cukup bahkan penuh adalah langkah menjaga agar kedua belah otak menjadi seimbang sehingga fungsinya berjalan optimal.
Richard Leviton, dalam bukunya Brain Builders menyebutkan bahwa orang yang mengalami gelombang otak alpha (7-14 Hz) melaporkan bahwa perasaannya nikmat, rileks, kesadaran meningkat dan emosi stabil. Dalam keadaan seperti ini otak akan sanggup membuat tubuh tetap dalam kondisi sehat karena produksi hormon kekebalan tubuh lancar dan tidak terganggu metabolisme.
Lain halnya bila otak sudah kehabisan tenaga dan bahan bakar (oksigen) akibat pernapasan pendek dan tersendat terus menerus. Gangguan ini menyebabkan kekacauan di otak. Akibatnya produksi hormon-hormon kekebalan yang melindungi tubuh juga kacau dan tersendat. Kita bahkan dapat mengubah keadaan gelombang otak ini sesuai keinginan dengan melakukan teknik semacam meditasi.
sumber : doctorndtv & Art of_breathing







